Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Agustus 2014

Teori-teori Kebudayaan

Ada tiga pandangan tentang kebudayaan, yakni:

1. Superorganik: kebudayaan adalah realitas super dan ada di atas dan di luar pendukung individualnya dan kebudayaan memiliki hukum-hukumnya sendiri. Inti pandangan superorganik adalah kebudayaan merupakan sebuah kenyataan sui generis, karena itu mesti dijelaskan dengan hukum-hukumnya sendiri. Kebudayaan tidak mungkin diterangkan dengan menggunakan sumbernya sebagaimana sebuah molekul dimengerti hanya dengan jumlah atom-atomnya, sumber-sumber bisa menjelaskan bagaimanan kebudayaan muncul, tetapi bukan kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan lebih daripada hasil kekuatan-kekuatan sosial dan ekonomi dan kebudayaan merupakan realitas yang menyebabkannya mungkin ada.

Pandangan superorganik mempunyai implikasi terhadap pendidikan. Yang pertama adalah bahwa pendidikan ialah sebuah proses mengontrol manusia dan membentuknya sesuai dengan tujuan kebudayaan. Kebijakan pendidikan ditentukan oleh individu-individu, tetapi individu-individu hanya alat melalui mana kekuatan-kekuatan budaya mencapai tujuannya. Jika kebudayaan menentukan perilaku anggota-anggotanya, kurikulum mesti dikembangkan atas kajian langsung dari keadaan kebudayaan sekarang dan masa depan. Pandangan superorganik juga berimplikasi pada pengawasan pendidikan yang ketat dari pemerintah untuk menjamin bahwa guru-guru menanamkan dalam diri generasi muda atas gagasan-gagasan, sikap-sikap dan keterampilan-keterampilan yang perlu bagi kelanjutan kebudayaan.

2. Konseptualis: kebudayaan bukanlah suatu entitas sama sekali, tetapi sebuah konsep yang digunakan antropolog untuk menghimpun/meunifikasikan serangkaian fakta-fakta yang terpisah-pisah. Menurut kaum konseptualis, pada akhirnya semua kebudayaan mesti diterangkan secara sosial psikologis. Kebudayaan bukan dihasilkan dari kekuatan super human karena kebudayaan mendapatkan semua kualitas dari kepribadian dan interaksi dari kepribadian. Pengikut konseptualis setuju bila anak-anak harus mempelajari warisan budaya sesuai dengan perhatiannya. Melalui pengalamannya sendiri dengan mengetes pengalaman belajarnya dan orang lain bila mendapat pandangan dan hal yang objektif mengenai kebudayaan.

3. Realis: kebudayaan adalah kedua-duanya, yaitu sebuah konsep dan entitas empiris. Kebudayaan adalah konsep dimana ia bangunan dari Antropologi dan kebudayaan sebuah entitas empiris yang menunjukkan cara mengorganisir fenomena-fenomena. Beberapa antropolog mempertahankan bahwa kebudayaan merupakan konsep dan realita yang berbentuk konstruk, bukan sebagai satu entitas yang bisa diamati tapi nyata karena tidak berbeda dalam mengamatinya.Menurut kaum realis terhadap pendidikan adalah dengan menanamkan pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan tertentu yang dipilih kebudayaan maka sistem pendidikan akan melatih individu untuk merubah kebudayaannya.

Sabtu, 05 April 2014

Punya Rumah Bukan Lagi Mimpi

Punya Rumah Bukan Lagi Mimpi

Turut mendukung terpenuhinya kebutuhan nasabah dengan memberikan beragam kemudahan dan layanan sudah menjadi komitmen BCA

BCA meraih penghargaan Platinum Brand Champion, Most Preferred Mortgage Brand dalam ajang indonesia Brand Champion 2013 yang diselenggarakan MarkPlus insight bersama majalah Marketeers.  Kepala Operasi Kredit Konsumer, Frans Sjarifudin hadir mewakili BCA menerima penghargaan Most Preferred KPr Brand untuk kategori bank dengan aset di atas 75 triliun. Penghargaan diserahkan langsung oleh Chief Operation MarkPlus insight, Farid Subkhan didampingi Ketua Umum rei, Setyo Maharso dalam acara Media expose Brand Champion 2013 yang diselenggarakan di hotel intercontinental, Kamis (31/10).

Frans dalam kesempatan tersebut menyampaikan, BCA terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan sehingga dapat memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh nasabah BCA. “Platinum Brand Champion ini menjadi hadiah sekaligus bukti dari komitemen BCA yang telah bekerja keras membantu masyarakat umum mewujudkan rumah impiannya,”tuturnya. indonesia Brand Champion award 2013 dengan kategori Most Preferred Mortgage (KPr) Brand merupakan bentuk apresiasi atas prestasi bank penyalur kredit perumahan yang paling banyak dipilih oleh konsumen.

Penghargaan diberikan berdasarkan survei yang dilakukan MarkPlus insight dengan melibatkan 600 responden di Jakarta, Bogor, Depok, tangerang dan Bekasi pada September 2013. Most Preferred Mortgage Brand diberikan kepada BCA berdasarkan preferensi konsumen terhadap bank yang akan dipilih untuk pembayaran tempat tinggal. “BCA bangga dipercaya konsumen dan semoga penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk semakin giat berbenah diri dalam memberikan pelayanan terbaik dalam pelayanan KPr tempat tinggal,” ungkap Frans. Kepercayaan masyarakat dalam menggunakan KPr BCA ini tidak terlepas karena berbagai keuntungan yang diperoleh dari KPr BCA. Dengan bunga yang kompetitif, angsuran yang ringan, serta fasilitas Bunga Fix dan Cap menjadi daya tarik KPr BCA, selain tentu pelayanan dengan proses yang cepat dan nyaman. Salah satu inovasi baru yang dihadirkan BCA untuk menyediakan solusi untuk mewujudkan hunian ideal yang diinginkan adalah dengan menghadirkan layanan e-form KPr BCA.  e-Form merupakan formulir aplikasi KPr BCA yang dapat diisi secara online, kapan saja dan di mana saja dengan mengakses www.BCA.co.id.

Sumber : InfoBCA No.233 Tahun 2013

Sabtu, 15 Maret 2014

7 Juta Siswa Mengukuti Ujian Nasional Tahun 2014

7 Juta Siswa Mengukuti Ujian Nasional Tahun 2014

Tahun Ini, Ujian Nasional Diikuti hampir 7 juta pelajar - Ujian nasional (UN) tahun ini akan diikuti 6.939.605 siswa. Tak seperti tahun sebelumnya, untuk kelulusan ada perbedaan pada komposisi nilai sekolah.

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, UN tetap dilaksanakan tahun ini dengan empat dasar hukum. Pertama, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kedua, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Ketiga, lanjut Mendikbud, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2013 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dari Satuan Pendidikan dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan dan Ujian Nasional. Keempat, Prosedur Operasi Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2013/2014.

Tahun ini, UN diikuti 6.939.605 siswa dengan rincian sebagai berikut:
- SMP/MTs dan SMPLB : 3.779.359
- SMA/MA dan SMALB : 1.644.352
- SMK/MAK: 1.184.744
- Paket B/Wustha: 128.623
- Paket C : 202.527

Adapun sekolah atau madrasah, serta pusat kegiatan belajar masyarakat dan pesantren akan mengumumkan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikannya paling lambat pada 20 Mei 2014 untuk SMA/MA, SMK/MAK, Program Paket C, dan Program Paket C Kejuruan; dan
14 Juni 2014 untuk SMP/MTs, SMPLB, SMALB, dan Paket B/Wustha. Adapun pengumuman untuk UN Kesetaraan Periode II dilaksanakan pada 22 September 2014.

Sementara itu, ujian teori kejuruan akan dilaksanakan pada 16 April 2014 dan ujian praktik kejuruan dilaksanakan mulai 18 Februari sampai 14 Maret 2014.

"Penggandaan dan pendistribusian bahan ujian teori SMK/MAK nanti dilaksanakan oleh dinas pendidikan provinsi," ujar Mendikbud dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (13/3/2014).

Mendikbud mengatakan, jika pada 2013 lalu komposisi nilai sekolah terdiri dari 40 persen nilai rata-rata rapor, dan 60 persen nilai ujian sekolah, tahun ini komposisi nilai sekolah terdiri dari 70 persen nilai rata-rata rapor dan 30 persen nilai ujian sekolah. Artinya, faktor kelulusan tidak sepenuhnya berdasarkan hasil ujian, melainkan nilai harian siswa.

Sistem ini dianggap paling cocok karena mampertimbangkan track record siswa selama bersekolah. Bukan hanya d tentukan oleh hasil akhirnya saja. Tetapi juga dalam proses kegiatan belajar mengajar

Saduran kompas

Kamis, 15 Desember 2011

Pengaruh Kebiasaan Belajar Terhadap Prestasi Belajar

Pengaruh Kebiasaan Belajar Terhadap Prestasi Belajar


Menurut Salim (2002:198) Kebiasaan adalah hal yang biasadilakukan. Sesuatu yang dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang akan menjadi ciri- ciri dari seseorang. Oleh karena itu kebiasaan seseorang cenderung bersifat relatif tetap dan sulit untuk diubah. Dari pengertian di atas kita mendapat gambaran bahwa kebiasaan belajar merupakan suatu bentuk perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus oleh seseorang. Kebiasaan belajar bukan bakat alamiah yang dibawa sejak lahir melainkan perilaku yang dipelajari secara sadar atau tidak sadar secara terus menerus. Oleh karena itu siswa diharapkan membentuk kebiasaan belajar yang baik, sehingga siswa dapat memperoleh prestasi belajar yang baik.
Gie dalam Hamid (2008:2) mengemukakan bahwa: “Beberapa cara belajar yang baik yaitu: Pedoman-pedoman umum dalam belajar, cara mengatur waktu dalam belajar, cara membaca buku, cara mengikuti pelajaran, cara membuat ringkasan, cara menghafal pelajaran, dan cara menulis karangan ilmiah”. Seseorang yang belajar dengan efisien akan memungkinkan untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi.

Jurnal penelitian dari Ahmad Hamid (2003) yang berjudul “Pengaruh Kebiasaan Belajaar Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika FKIP UNSYIAH”, hasil penelitian ini menemukan bahwa persamaan garis regresi linear yaitu v = 0.88 +0.67 X. melihat arah regresi linear  b = 0.67 yang signifikan dan positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa untuk setiap kebiasaan belajar (X) bertambah baik, maka prestasi belajarnya (Y) akan bertambah baik juga. Besarnya koefisien korelasi antara kebiasaan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa r = 0.40 adalah korelasi positif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebiasaan belajar mempunyai pengaruh yang berarti terhadap prestasi belajar mahasiswa jurusan pendidikan fisika FKIP Unsyiah angkatan 2003. Semakin baik kebiasaan belajar yang dilakukan, maka akan semakin baik pula prestasi belajar yang diperoleh.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Sudjiono yang berjudul “Hubungan Kecerdasan Emosi dan Kebiasaan Belajar dengan Prestasi Belajar Matematika”, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kebiasaan belajar matematika berkorelasi positif dengan prestasi belajar matematika dengan koefisien korelasi sebesar 0,475 < 0,01 dengan sumbangan relatif sebesar 0,226. Penemuan ini mengandung arti bahwa untuk peningkatan prestasi belajar matematika di SLTP Negeri Surabaya faktor kebiasaan belajar memegang peran penting dalam membentuk prestasi belajar matematika yang baik.

Prestasi belajar merupakan indikator keberhasilan belajar di sekolah. Prestasi merupakan harapan semua pihak baik siswa sendiri, orang tua maupun guru. Prestasi merupakan tolak ukur dari mutu pendidikan. Prestasi belajar diperlukan dalam pertimbangan untuk naik tidaknya siswa, kelulusan dan pemilihan siswa berprestasi. Dengan diterapkannya kebiasaan belajar siswa yang efektif, maka akan memungkinkan untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi.

Pengaruh Fasilitas Belajar di Sekolah Terhadap Prestasi Belajar


Dalam UU SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003 Bab III  Pasal 45 tentang sarana dan prasarana pendidikan, dinyatakan bahwa :
1)   Setiap satuan pendidikan formal maupun  non formal meyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan secara fisik, kecerdasan intelektual sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.
2)   ketentuan mengenai penyediaan sarana dan prasarana pendidikan pada semua satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Dari kedua ayat diatas dimaksudkan agar tiap-tiap sekolah menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai semua keperluan pendidikan agar siswa dapat memanfaatkannya sebagai penunjang belajar siswa.
Tulus (2003:81-83) mengungkapkan bahwa sarana belajar biasanya menjadi penunjang prestasi belajar, namun demikian bila kelengkapan fasilitas belajar sebagai sarana penunjang belajar di sekolah memadai, sebaliknya dapat menjadi faktor penghambat apabila kelengkapan fasilitas belajar di sekolah kurang memadai.
Sekolah hendaknya meyediakan sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa agar dapat menumbuhkan, mengembangkan dirinya sesuai dengan bakat dan kemampuan sebagai manusia seutuhnya. Dengan adanya fasilitas belajar yang lengkap, akan menumbuhkan rasa bangga dan rasa memiliki. Pemeliharaan fasilitas belajar di sekolah merupakan tanggung jawab semua pihak yang bersangkutan. Hal ini bertujuan agar fasilitas belajar dapat dimanfaatkan sesuai fungsinya dan dapat bertahan  dengan jangka waktu yang lama. Pengadaan fasilitas belajar sangat penting bagi siswa dan kurikulum pada saat itu.
Penelitian ini juga diperkuat oleh hasil penelitian Yuliana (2009) yang berjudul “Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Fasilitas Belajar di Sekolah Terhadap Prestasi Belajar Siswa Program Keahlian Akuntansi SMK BHAKTI MULIA Pare”, hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi siswa tentang fasilitas belajar di sekolah mempunyai pengaruh langsung terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi SMK BHAKTI MULIA Pare, yaitu sebesar 84,9 %. Sedangkan sisanya sebesar 15,1 % dipengaruhi variabel lain.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fasilitas belajar  di sekolah sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Apabila fasilitas belajar di sekolah tidak memadai dan kuantitas pemanfaatan fasilitas minim, maka tidak mungkin akan dicapai prestasi belajar siswa yang diharapkan.
Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah

Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah


Perpustakaan lazim dikenal sebagai jantung sekolah,karena perannya sebagai denyut nadi proses belajar mengajar di sekolah. Pepustakaan dipandang sebagai kunci bagi ilmu penetahuan dan inti setiap proses belajar mengajar. Perpustakaan sangat strategis kaitannya dengan kualitas layanan pendidikan di sekolah, oleh karena itu ia harus dapat memberikan layanan sebaik mungkin kepada peserta didik, agar peserta didik dapat memanfaatkan semaksimal mungkin terhadap perpustakaan.
Perputakaan merupakan sumber belajar yang menyenangkan apabila buku yang tersedia cukup lengkap disertai penataan ruang dan kelengkapan yang memadai. Di perpustakaan siswa dapat memperoleh tanbahan ilmu pengetahuan yang akan menunjang materi yang diperoleh melaluai bangku sekolah.
1.    Pengertian Perpustakaan
MenurutImron (1995 :184), “perpustakaan adalah suatu tempat yang berupa ruangan atau gedung yang berisi buku-buku atau bahan-bahan lain untuk pembacaan, studi atau referensi”. American Library Assosiationdalam Imron (1995:184) memberikan batasan “ perpustakaan sebagai suatu koleksi buku atau bahan pustaka lainnya yang diorganisasikan dan diadministrasikan untuk keperluan membaca, konsuktasi atau studi”
Supriyadi dalam Imron(1995:186) mendefinisikan “perpustakaan sekolah sebagai perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah guna menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal seperti sekolah, baik sekolah tingkat dasar maupun menengah, baik sekolah umum atau kejuruan”. Menurut Romine dalam Imron(1995:187) berpendapat bahwa “perpustakaan sekolah adalah suatu unit pelayanan di dalam sekolah yang kehadirannya hanya dapat dibenarkan sejauh ia mampu membantu  pencapaian pengembangan tujuan- tujuan dari sekolah tersebut”.

Menurut Nurhadi (2004:34) perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat mengumpulkan, menyimpan, dan memelihara koleksi bahan pustaka yang dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu dan digunakan secara kontinyu sebagai sumber informasi”.
Dari beberapa definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat yang menyimpan koleksi bahan pustaka yang disusun dan dikelola dengan menggunakan sistem tertentu agar dapat dipergunakan untuk mereka yang membutuhkan dan mempunyai sifat non profit. Selain itu perpustakaan sekolah juga mengandung pengertian salah satu unit sekolah yang memberikan layan kepada peserta didik di sekolahsebgai sentra utama, dengan maksud membantu dan menunjang proses belajar mengajar di sekolah, melayani informasi yang dibutuhkan melalui koleksi bahan pustaka

Keberadaan perpustakaan sekolah adalah dalam rangka ikut mendukung tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Menurut Imron (1995:187) “tujuan perpustakaan sekolah adalah untuk mempertinggi daya serap peserta didik terhadap materi-materi pelajaran yang diajarkan di sekolah”. Daya serap terhadap materi pelajaran bisa meningkat apabila didukung oleh koleksi bahan pustaka yang jumlahnya banyak dan kualitasnya baik. Pengadaan buku-buku, majalah, surat kabar, artikel, diperputakaan dilakukan melaui pemilihan yang baik yang dapat memenuhi kebutuhan dan minat siswa. Kegiatan dapat dilakukan pada saat-saat luang sehingga waktu luang dapat diisi dengan kegiatan yang bermanfaat.

Dalam proses belajar di perpustakaan inipun perlu mendapat bimbingan guru, misalnya pada masalah pemilihan buku, majalah, tata tertib, pemeliharaan dan pemakaian fasilitas. Di samping itu guru juga berperan meningkatkan minat dan perhatian siswa dalam menggunakan perpustakaan sebagai salah satu tempat dalam proses belajar mengajar. Menurut Soetopo (1989:153) ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk ruang perpustakaan yaitu, sebagai berikut:

a.         Buku-buku, baik jumlahnya maupun jenis  dan tingkat kesukaranya disesuaikan dengan kebutuhan siswa, guru, dan tenaga pendidikan lainnya
b.        Tempat penyimpanan buku, majalah, Koran dan lainnya diatur dan ditata sesuai dengan keadaan ruangan.
c.         Pengelola perpustakaan (pustakawan) bertugas mengatur, memberi nomor, merwat dan melayani peminjam dan pengembalian buku dengan baik.
d.        Perpustakaan perlu dilengkapi dengan ruang baca yang bersih, agar dapat tercipta suasana yang tenamg dan aman sehingga mudah memusatkan pikiran untuk belajar dan membaca.
e.         Perpustakaan perlu dilengkapi dengan catalog buku, majalah dan lain-lainnya sehingga mudah mengetahui buku, majalah dan lain-lain yang ada di perpustakaan.
f.         Perpustakaan perlu dilengkapi dengan loket peminjam dan pengembalian yang letaknya disesuaikan dengan kondisinya.
g.        Papan pengumuman khusus kegiatan belajar yang berhubungan dengan perpustakaan di letakkan di depan perpustakaan.
h.        Tampat sampah ditempatkan dekat ruang baca.
i.          Buku anggota atau kartu perpustakaan perlu dikelola sebaik-baiknya
j.          Buku daftar pengunjung perlu disiapkan.

2.    Jenis-Jenis Perpustakaan
Menurut Imron (1995: 186)perpustakaan dapat dibagi menjadi beberapa jenis menurut penggolongan berdasarkan sifatnya, letaknya, menetapnya dan juga penggolongan lainnya.
a.    Menurut Sifatnya
1)      Perpustakaan Umum, yaitu suatu perpustakaan yang bertujuan untuk memberikan layanan kepada masyarakat umum. Oleh karena ditujukan kepada masyarakat umum, maka koleksi bahan pustaka yang disediakan mempunyai relevansi dengan kebutuhan masyarakat pada umunya. Fungsi perpustakaan umum adalah sebagai tempat kegiatan belajar, pusat informasi, penelitian dan rekreasi bagi masyarakat umum.

2)      Perputakaan khusus atau dinas, yaitu perpustakaan yang khusus diperuntukan untuk karyawan di suatu perusahaan atau instansi. Oleh karena sifatnya yang khusus ini, maka koleksi bahan pustaka yang disediakan juga yang mempunyairelevansi dengan bidang atau kedinasan karyawan. Mereka yang dapat memanfaatkan terbatas karyawan dan mereka yang mendapat ijin dari perusahaan , lembaga, jawatan yang mendirikan. Tujuan didirikanya perpustakaan khusus ini adalah sebagai pusat dokumentasi, penelitian yang diarahkan untuk mempelancar pelaksanaan tugas jawatan, instansi atau lembaga yang bersangkutan

b.    Menurut Letaknya
1)      Perpustakaan Nasional, yaitu perpustakaan yang terletek di ibu kota negara. Perpustakaan ini mengabadikan seluruh penerbitan dari suatu negara sebagai sumber informasi. Fungsi perpustakaan nasional adalah sebagai pusat dokumentasi yang menyimpan seluruh bahan informasi mengenai suatu nagara.
2)      Perpustakaan Wilayah, yaitu perpustakaan yang menyimpan bahan koleksi pustaka mengenai suatu propinsi dan memuat semua terbitan wilayah. Fungsi perpustakaan wilayah adalah sebagai pusat penyelenggaraan pelayanan referensi, informasi dan penelitian di wilayah propinsi
c.    Menurut Menetapnya
1)      Perpustakaan menetap, yaitu suatu perpustakaan yang ketika memberikan layanan kepada konsumennya bertempat tinggal di suatu tempat, misalnya gedung perpustakaan.
2)      Perpustakaan Keliling, yaitu perpustakaan yang ketika memberikan layanan, dengan keliling ke daerah-daerah, desa- desa, dan sentra-sentra pemukiman dan kegiatan masyarakat. Dengan demikian masyarakat yang tidak terjangkau oleh perpustakaan menetap dapat dilayani oleh perpustakaan keliling.
Selain penggolongan diatas, masih ada perpustakaan jenis lain misalnya perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan desa dan perpustakaan masjid.

3.    Fungsi Perpustakaan
Menurut Imron (1995:188) terdapat beberapa fungsi perpustakaan yaitu sebagai berikut: sebagai pusat belajar mengajar, sebagai pusat penelitian dan telaah kepustakaan, sebagai pusat ilmu pengetahuan, sebagai pusat rekreasi, dan sebagai pusat apresiasi dan kreasi.
Sebagai pusat belajar mengajar sekolah artinya bahwa proses balajar mengajar yang dilakukan oleh guru dengan peserta didik dapat dilakukan dengan kelengkapan koleksi bahan pustaka yang berasal dari perpustakaan sekolah. Fungsi ini juga mengandung arti, bahwa ketika guru berhalangan mengajar, peserta didik dapat ditugaskan mencari materi-materi yang telah digariskan oleh kurikulum melalui perpustakaan sekolah.

Sebagai pusat penelitian dan telaah kepustakaan, artinya bahwa peserta didik dapat mengadakan penelitian literature diperpustakaan dan mengadakan telaah pustaka. Konsep-konsep dan teori-teori yang pernah diterima peserta didik, termasuk yag berasal dari gurunya, dapat di cek apakah benar, sesuai atau berbeda dari yang ia temukan. Dengan mengadakan pengecekan demikian, psesrta didik dapat memahami sesuatu dari perspektif yang jauh lebih luas lagi.

Sebagai pusat ilmu pengetahuan, artinya bahwa dalam koleksi bahan pustaka yang tersimpan di perpustakaan, tersimpan juga ilmu pengetahuan. Dengan fungsi demikian, maka pserta didik akan sadar sepenuhnya bahwa pengetahuan yang didapatkan dari guru mereka adalah sedikit dari banyaknya ilmu pengetahuan sebenarnya ada diperpustakaan. Oleh karena itu, peserta didik tidak hanya menjadikan gurunya sebagai satu-satunya sumber, melainkan berdasarkan apa yang dia dapatkan dari guru itulah, peserta didik akan mengejar terus keperpustakaan yang tersedia.

Fungsi Pusat Rekreasi, artinya bahwa pserta didik dapat memanfaatkan kleksi bahan pustaka yang mempunyai muatan rekreatif  sebagai saran rekreasi. Bacaan-bacaan fiksi dan ringan atau yang disajikan dengan nada humor dapat menghibur peserta didik di sela-sela kegiatan proses belajar mengajar yang mungkin diantaranyaada yang menegangkan.

Fungsi Pusat Apresiasi, artinya bahwa dengan mengkaji karya-karya yang menjadi koleksi pustaka perpustakaan, peserta didik akan dapat menghargai karya  orang lain. Ia, yang mungkin tidak sejaman dengan pengarangnya, dapat menyelam jauh ke belakang mengapresiasikan ide-ide yang ditampilkan dalam koleksi bahan pustaka tersebut. Penghargaan atas karya orang lain demikian dan kekaguman atas kehebatan pengarang, sangat besar artinya bagi peserta didik dalam menyerap gagasannya. Tidak hanya itu, dalam dirinya juga akan terdapat rasa dorongan untuk mencontohnya dengan cara mengikuti jejak pengarang dan penulis yang mempunyai banyak karya.
Ruang Belajar Atau Ruang Kelas

Ruang Belajar Atau Ruang Kelas


Kegiatan belajar mengajar baik secara formal maupun non formaltidak terlepas dari penggunaan ruangan. Untuk itu ruanagan yang bersihdan tertur akan tersa nyaman digunakan dalam proses belajar mengajar.

Tugas guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas meliputi dua aspek, yaitu pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan iklim pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran berhubungan dengan penciptaan dan pengeturan system lingkungan yang mendorong timbulnya aktifitas belajar anak.sedangkan pengelolaan iklim pembelajaran berhubungan dengan penciptaan, pemeliharaan dan pengembalian iklim pembelajaran yang efektif dan produktif bagi pencapaian tujuan-tujuan pembelajaran (Saputro, 2000:69)

Untuk pencapain keberhasilan pembelajaran, guru dituntut tidak hanya menguasai ketrampilan pengelolaan pembelajaran semata, melainkan juga dituntut untuk menguasai ketrampilan pengelolaan  iklim pembelajaran. Pengelolean iklim pembelajarn yang baik diperlukan agar iklim pembelajaran menjadi kondusif bagi aktifitas belajar anak.
Ruang kelas merupakan tempat berinteraksinya anak dengan latar belakang sosial yang berbeda-beda, oleh karena itu dalam kelas ini rawan terjadi gangguan. Dalam hal ini seorang guru harus benar-benar dapat menjaga keadaan kelas agar tetap kondusif untuk belaar. Kondisi fisikal kelas juga dapat menjadi sumber gangguan belajar siswa manakala kondisinya tidak kondusif. Bahkan kondisi fisik kelas juga dapat menjadi pemicu muncunya penyimpangan-penyimpangan perilaku dalam kelas. Kondisi kelas yang dapt menimbulkan gangguan belajar misalnya kelas yang kurang tenang, tempat duduk yang kurang senhingga anak duduk berdesakan, susunan tempat duduk berdesakkan, susunan tempat duduk dan bangku yang tidak relavan dengan format kegiatan belajar yang ditetapkan, sirkulasi udara yang kurang lancar dan lain-lain. Kondisi kelas yang demikian itu dapat merangsang timbulnya penyimpangan-penyimpangan perilaku anak, baik penyimpangan perilaku yang bersifat individual maupun kelompok.
Pada umumnya ruang kelas mempunyai perlengkapan yang meliputi: bangku atau meja beserta tempat buku siswa, kursi siswa, meja dan kursi guru beserta tempat buku guru, lemari buku, alat-alat peraga, papan tulis, tempat cuci tangan dan lain-lain. Hal penting yang berhubungan dengan perlengkapan fisik ruang kelas tersebut adalah penyusunannya. Penyusunan yang sesuai, dapat memberikan dampak positif bagi kelancaran dan keberhasilan kegiatan pembelajaran.
Dalam penyusunan ruang kelas perlu pula diperhatikan tata ruangnya. Menurut Soetopo (1989:152-153) hal-hal yang harus diperhatikan untuk ruang kelas sebagai berikut:
a.       Jumlah kursi dan bangku untuk siswa dan guru disesuaikan dengan situasi dan kondisi ruangan. Kursi dan bangkunya diatur sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhannya.
b.      Papan tulis ditempatkan didepan kelas dan penempatannya disesuaikan dengan ruangan serta jarak dengan siswa. Juga penempatan kapur dan penghapusnya.
c.       Teks tata tertib, teks sumpah pemuda, daftar piket dan daftar absensi ditempatkan berdekatan dengan meja guru.
d.      Foto atau gambar tokoh pendidikan atau pahlawan nasional diletakkan pada dindingdan diatur dengan rapi, dan disesuaikan dengan keadaan ruang itu sendiri.
Demikain fasilitas ruang kelas seperti pintu, ukuran dan jumlah jendela atau ventilasi, menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan dalam mendesain kelas. Ornstein dalam Saputro(2000:90-91), menyebutkan ada tujuh faktor yang harus dipertimbangkan dalam mendesain susunan ruang kelas, yaitu:
1.      Mengatur ruang sesuai dengan keadaan yang sudah ada. Guru tidak dapat mengubah yang sudah ada dalam ruangan. Oleh karena itu untuk mengatur ruang kelas, guru harus mempertimbangkan letak pintu, jendela, lemari, stop kontak dan seterusnya. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka guru dapat mengatur misalnya bangku jangan terlalu dekat dengan jalan keluar dan kabel tidak melintang di ruang kelas
2.      Area lalu lintas di ruang kelas. Hal – hal yang sering digunakan seperti, almari buku, tempat cuci tangan, perlu ditempat tebuka dan mudah didatangi. Meja guru harus berada di lalu lintas  yang sepi.
3.      Area tempat belajar harus khusus dan tenang, lebih baik diujung atau dibagian belakang, ruangan jauh dari tempat bising
4.      Perkakas dan peralatan harus bersih dan siap pakai. Meja dan kursi yang suadah tua, grafik dan gambar yang sudah usang disingkirkan. Peralatan disimpan dalam ruangan.
5.      Material pembelajaran harus mudah dan dapat dijangkau sehingga aktifitas belajar dimulai dan berakhir tepat waktu.
6.      Kemudahan mengamati anak dikelas. Guru harus dapat melihat semua siswa untuk mengurangi masalah manajerial dan meningkatkan supervisi pengajaran. Siswa dapat melihat guru, bayangan OHP, demonstrasi tanpa memindahkan bangku atau memutarkan kepala
7.     Fleksibel. Desain harus fleksibel sehingga dapat dimodifikasi untuk aktifitas yang berbeda dan kelompok yang berbeda.

Evans dan Brueckner dalam Saputro (2000:88), menyebutkan “kondisi fisik kelas (Phisical enviroenment of the class room) meliputi segala sesuatu yang ada didAlam ruang kelas: papan bulletin, furniture, penerangan, temperature ruang”.


Pada tingkatan yang berbeda, perlengkapan fisik ruang kelas berbeda pula. Oleh karena itu, untuk tingkat pendidikan dasar, perlengkapan ruang kelas berbeda dengan perlengkapan ruang kelas untuk tingkatan sekolah menengah, demikian juga untuk tingkat pendidikan tinggi tentu juga akan berbeda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan belajar masing-masing tingkatan pendidikannya
Pengertian Fasilitas Belajar

Pengertian Fasilitas Belajar


Fasilitas belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi interaksi belajar mengajar. Interaksi belajar mengajar akan semakain produktif apabila antara siswa, guru, dan materi pelajaran didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai serta pengelolaan yang baik sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna. Menurut Soerjani dalam Indrafachrudi (1989: 135) Fasilitas pendidikan meliputi sarana dan prasarana. Sarana yaitu semua peralatan serta kelengkapan yang langsung digunakan dalam proses pendidikan sekolah, contohnya gedung sekolah, ruang kelas, alat peraga dan sebagainya. Sedangkan prasarana meliputi semua komponen yang langsung menunjang jalanya proses belajar mengajar atau pendidikan di sekolah, contoh: jalan menuju sekolah, tata tertib dan sebagainya. 
Fasilitas pendidikan meliputi semua faslitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien sehingga siswa dapat mencapai prestasi belajar yang optimal. Sebagai tempat proses belajar mengajar, sekolah herus didukung dengan sarana dan prasarana sekolah yang digunakan dalam proses pendidikan seperti ruang belajar yang nyaman, perpustakaan yang dapat menyediakan bahan pustaka yang dibutuhkan, media yang tepat, dan laboratorium yang lengkap. Sehubungan dengan hal tersebut maka pengadaan sarana dan prasarana sekolah perlu diperhatikan agar siswa merasa diperhatikan dan dapat belajar dengan tenang.
Sudah menjadi suatu tuntutan bahwa sekolah harus memiliki fasilitas belajar yang memadai dan dalam kondisi yang baik, hal ini bertujuan untuk menunjang jalannya proses belajar mengajar di sekolah. Menurut PP RI No.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab VII Standar Sarana dan Prasarana pasal 42:
(1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber bclajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
(2) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, rung kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat bcribadah, tempat bermain/tempat berkreasi dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Sedangkan menurut Soetopo (1989:135) adapun fasilitas yang seharusnya dimiliki oleh pihak sekolah untuk menunjang proses belajar mengajar antara lain gedung sekolah, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan media pengajaran. Berdasarkan uraian diatas maka fasilitas belajar yang ada di sekolah dikatakan memiliki kategori sangat lengkap apabila memiliki fasilitas belajar sesuai dengan  PP RI No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab VII Standar Sarana dan Prasarana pasal 42, dan memiliki kategori lengkap paling tidak memiliki gedung sekolah, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan media pengajaran. Memiliki kategori kurang lengkap apabila kurang dari ke enam fasilitas seperti  gedung sekolah, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan media pengajaran.
Dalam penelitian ini, peneliti berpendapat bahwa suatu satuan pendidikan (sekolah) paling tidak harus memiliki fasilitas belajar yang tergolong kriteria lengkap, sehingga dalam penelitian ini yang akan di bahas adalah fasilitas belajar yang meliputi  gedung sekolah, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan media pengajaran.

a.    Sarana dan Prasarana Pendidikan
            Menurut Bafadal (2003:2), “fasilitas dapat dikelompokan menjadi dua yaitu sarana pendidikan dan prasarana pendidikan”.
1)   Sarana Pendidikan
Sarana pendidikan dapat dikelompokan menjadi beberapa kelompok yaitu:
a.    Ditinjau dari habis tidaknya dipakai
1)      Sarana pendidikan yang habis dipakai,yaitu segala bahan atau alat yang apabila digunakan bisa habis dalam waktu yang relatif singkat. Misalnya kapur tulis, bahan kimia untuk percobaan kertas dan sebagainya.
2)      Sarana pendidikan yang tahan lama, yaitu keseluruhan alat  atau bahan yang dapat digunakan secara terus – menerus dalam waktu yang relatif lama. Misalnya, bangku sekolah, mesin tulis, atlas, globe, dan alat olah raga.
b.    Ditinjau dari bergerak tidaknya
1)      Sarana pendidikan yang bergerak, yaitu sarana pendidikan yang bias digerakkan atau dipindah sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Misalnya, lemari arsip sekolah, bangku sekolah.
2)      Sarana pendidikan yang tidak bisa bergerak, yaitu semua sarana pendidikan yang tidak bisa atau relatif sangat sulit untuk dipindahkan. Misalnya sekolah yang sudah mengggunakan PDAM, pipanya tidak dapat dipindah-pindahkan.
b.    Ditinjau dari hubungannya dengan proses belajar mengajar
1)      Sarana pendidikan yang secara langsung digunakan dalam proses belajar mengajar.Misalnya, kapur tulis, atlas, dan sarana pendidikan lainnya yang digunakan guru dalam mengajar.
2)      Sarana pendidikan yang secara tidak langsung berhubungan dengan proses belajar mengajar. Misalnya, lemari arsip di kantor sekolah.

1.    Prasarana Pendidikan
Prasarana pendidikan ini dapat diklasifikasikan menjadi dua macam:
a.    Prasarana pendidikan yang secara langsung digunakan untuk proses belajarmengajar, seperti ruang belajar, ruang perpustakaan, ruang praktik ketrampilan, ruang laboratorium dan lain-lain.
b.    Prasarana sekolah yang keberadaannya tidak digunakan dalam proses belajar mengajar, tetapi secara langsung dapat menunjang terjadinya proses belajar  mengajar. Misalnya, ruang kantor, kantin, jalan menuju ke sekolah, kamar kecil, ruang UKS, ruang kepala sekolah, dan tempat parkir.


2.    Prinsip  Sarana dan Prasarana di sekolah
Soerjani dalam Indrafachrudi(1989:135) menyatakan bahwa komponen sarana dan prasarana  sekolah yang harus diperhatikan adalah:
a.       Sekolah memiliki gedung sendiri atau tidak
b.      Sekolah menggunakan gedung bersama sekolah lain atau tidak
c.       Ruangan-ruangan yang diperlukan cukup, sedang, atau kurang
d.      Pendidikan berlangsung pagi, siang atau malam
e.       Air dan penerangan tersedia cukup atau tidak
f.       Halaman cukup, sedang atau tidak ada
Dalam mendirikan gedung sekolah, perlu pula diperhatikan tentang letak sekolah dan lngkungannya. Letak dan lingkungan sekolah adalah komponen yang dapat menunjang atau mennghambat usaha peningkatan ketahanan sekolah. Oleh karena itu perlu memanfaatkan segi-segi positif dan menghindari segi-segi negatif dari komponen tersebut. Selain itu pendirian sekolah juga harus mempertimbangkan mengenai alokasi sekolah dan lokasi sekolah. Alokasi sekolah adlah jumlah sekolah yang ditentukan bgi suatu daerah, sedangkan lokasi sekolah merupakan tempat dimana sekolah itu dibangun.

3.    Kriteria Sekolah yang Baik
            Menurut Soerjani dalam Indrafachrudi (1989:145) kriteria sekolah yang baik adalah sekolah yang memperhatikan 5K, yaitu keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, dan kekeluargaan. Lebih jelasnya sebagai berikut:
1)      Keamanan adalah rasa aman dan tentram, bebas dari rasa takut, baik lahir maupun batin. Di sekolah keamanan merupakan modal utama untuk terlaksananya program sekolah.
2)      Ketertiban adalah keteraturan yang menimbulkan, keselarasan dan keseimbangan dalam tata letak, tata hidup dan tata pergaulan.
3)      Keindahan adalah perpaduan unsur alami ciptaan Tuhan yang menimbulkan rasa estetika dalam kehidupan.
4)      Kekeluargaan adalah perwujudan kehidupan yang dijiwai oleh tenggang rasa dan gotong royong dalam mewujudkan saling asah, asih, dan asuh dalam masyarakat sekolah. 

Rabu, 14 Desember 2011

Pengaruh Persepsi Siswa tentang Strategi Pembelajaran Team Teaching Terhadap Motivasi Belajar

Pengaruh Persepsi Siswa tentang Strategi Pembelajaran Team Teaching Terhadap Motivasi Belajar


Dalam pendidikan, minat memainkan peranan yang penting dalam mempengaruhi untuk belajar sesuatu karena hal ini merupakan dasar dari motif belajar. Ketika pelajaran akuntansi tidak menarik bagi siswa, motivasi mereka untuk belajar cenderung relatif rendah.
Dalam belajar akuntansi, siswa harus mempunyai minat agar dapat memusatkan perhatian mereka pada pelajaran untuk mendapatkan hasil yang optimal. Gazda dkk (1973:9) menyatakan bahwa kesenangan siswa pada guru merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam menciptakan situasi belajar yang efektif. Sebagai tambahan, hubungan antar individu dalam kelas menentukan apa yang disebut dengan kelompok sosial – suasana emosi, iklim kelas, suasana kelas, atau iklim kelompok (Gazda dkk, 1973:10). Suara hati kelas juga sangat penting. Siswa belajar dengan maksimal saat mereka secara emosional terlibat dalam kegiatan belajar dan mengajar dengan mempertahankan suasana kelas yang menyenangkan.
Dengan jumlah siswa yang besar dalam satu kelas, akan sulit bagi para guru untuk memberikan perhatian pada seluruh kelas. Siswa membutuhkan perhatian lebih dari guru mereka, sehingga mereka dekat secara emosional. Dengan adanya dua guru dalam kelas, diharapkan tidak ada siswa yang terasing dari guru. Selain itu dengan adanya dua guru sekaligus dapat memberikan pengetahuan berganda artinya siswa mendapatkan dua pengetahuan sekaligus dari guru team teaching yang tidak sama antar guru team teaching, karena guru mengajar secara bergantian dan saling terkait dan melengkapi, dan juga menurut Murni (2008) berpendapat team teaching memberikan bimbingan belajar yang maksimal kepada siswa. Dengan kata lain, semua siswa mendapatkan perhatian yang lebih dengan adanya dua guru akuntansi daripada hanya memiliki satu guru. Pernyataan ini diperkuat oleh Reza siswa SMA Plus Muthahhari yang menyatakan team teaching membuatnya semangat untuk belajar. Selain itu, ia juga merasakan hal yang berbeda dari adanya dua guru dalam satu pelajaran (www.google.com/smuth.net).
Kesimpulannya bahwa dengan adanya strategi pembelajaran team teaching siswa lebih termotivasi dalam belajar hal ini disebabkan adanya dua guru yang mengajar didalam kelas sehingga proses belajar mengajar lebih terkontrol dan siswa mendapatkan perhatian yang lebih karena diajar lebih dari satu guru
▲
Top