Senin, 12 Desember 2011

Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Rokok Sigaret Kretek Tangan Di Wilayah Kota Malang


Permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia pada umunya dan Kota Malang pada khususnya adalah masih seputar besarnya angkatan kerja dan sempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia dan hal itu masih diperparah oleh relatif rendahnya kualitas sumber daya manusia sehingga pada akhirnya menyebabkan relatif tingginya angka pengangguran. Sehingga sektor industri khususnya sektor industri rokok sigaret kretek tangan diharapkan dapat memecahkan permasalahan ketenagakerjaan tersebut, serta sekaligus diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pendapatan pemerintah
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian deskriptif. Dengan menggunakan metode ini dan berdasarkan data-data yang diperoleh melalui metode purposive random sampling terhadap 29 pabrik rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang diambil sebagai sampel selama lima tahun pengamatan dari tahun 1996-2000 serta informasi-informasi yang diperoleh diharapkan dapat lebih mudah menguraikan dan menggambarkan dengan jelas kondisi industri rokok, khususnya industri rokok sigaret kretek tangan yang sesungguhnya. Selanjutnya hal tersebut akan dianalisa dengan menggunakan konsep elastisitas baik di pasar barang maupun di pasar faktor produksi.
Dari hasil penelitian yang diperoleh memperlihatkan bahwa terdapat surplus pendapatan cukai serta kecenderungan peningkatan produksi rokok SKT selama masa pengamatan meskipun diiringi oleh kenaikan harga rokok, sehingga dari hasil analisa maka rokok dapat digolongkan sebagai barang giffen. Sementara itu dengan adanya surplus permintaan pasar tersebut akhirnya berdampak pada semakin bertambahnya permintaan pabrik rokok terhadap tenaga kerja bagian produksi. Sehingga permintaan industri rokok terhadap tenaga kerja produksi memiliki pola yang sama dengan permintaan konsumen terhadap komoditas rokok.
Dari hasil analisa tersebut didapat suatu kesimpulan bahwa meskipun industri pengolahan pada umumnya dan industri SKT pada khususnya terbukti dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah relatif besar serta mampu memberi kontribusi yang cukup besar bagi PDRB kota Malang namun dengan segala peraturan pemerintah yang tidak kondusif dirasa memberatkan industri rokok sigaret kretek tangan khususnya untuk industri skala usaha menengah dan kecil. Disisi yang lain, terdapat adanya tingkat upah yang relatif rendah bagi pekerja produksi rokok SKT serta terjadinya kesenjangan tingkat upah yang relatif besar antara pekerja pabrik rokok skala besar dengan skala menengah dan kecil, sementara dengan sistem pengupahan borongan menjadikan menjadikan output setiap pekerja dalam menghasilkan rokok mempunyai hubungan positif dengan tingkat upah.
            Sehingga dari hasil analisa diatas disarankan agar pemerintah melalui instansi terkait mampu menciptakan iklim yang kondusif serta dapat melakukan pembinaan yang berkelanjutan guna perkembangan sektor ini kedepan dalam menghadapi era perdagangan bebas. Selain itu bagi pihak pabrik rokok, dalam rangka meningkatkan tingkat efisiensi produksi maka perusahaan hendaknya dapat melakukan usaha antara lain dengan melakukan peningkatan tingkat upah pekerja, perbaikan lingkungan kerja serta meningkatkan kualitas hubungan industri antara para pekerja dengan pihak pengusaha maupun dengan pihak manajemen perusahaan


Top